Jumat, 14 Oktober 2011

Kisah Tiga Pengembara 


Alkisah ada tiga pengembara, yang dalam perjalanannya singgah di sebuah kota. Warga kota itu tak pernah bergembira, sebab mereka hidup dengan sangat mementingkan diri sendiri. Mereka mengerjakan segala sesuatu sendiri dan untuk dirinya sendiri. Selain itu, mereka suka mencurigai semua orang. Termasuk kepada tiga pengembara kelaparan yang duduk di tengah alun-alun kota mereka.
Tiga pengembara itu membuat api lalu merebus sebuah batu.
“Apa yang kaubuat?” tanya seorang anak yang lewat.
“Kami membuat sup batu yang sangat enak,” kata si pengembara, “tetapi akan jauh lebih enak jika ditambah sesiung kecil bawang,” lanjutnya.
Anak itu pun berlari dan mengambilkan bawang.
Orang-orang kota itu mulai penasaran. Mereka mengintip dan menengok satu per satu.
“Sup ini akan jauh lebih enak jika ditambah wortel dan tomat. Seiris kecil daging juga membuat rasanya jauh lebih baik.”
Didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mereka membawakan satu per satu bahan yang disebut para pengembara. Alhasil, jadilah sup yang enak (tentu setelah batunya dibuang) dan penduduk kota pun ikut menikmatinya.
Akhirnya, untuk pertama kalinya penduduk kota itu meniadakan rasa curiga dan mengalami indahnya hidup berbagi dalam kebersamaan.
Pemazmur menyebutkan betapa baiknya apabila kita hidup bersama dengan rukun. Tidak cuma berarti tinggal bersama-sama, tetapi saling menerima dan saling berbagi dalam kasih. Hidup rukun tanpa prasangka, yang menghalangi interaksi dengan sesama. Hidup harmonis ini bukan saja mendatangkan kebahagiaan bagi kita, melainkan juga bagi Allah.
“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133:1-3)

Surat Natal dari Yesus

Dengan kasih,Seperti yang kalian sudah ketahui, kita semakin dekat dengan ulang tahun-Ku, Setiap tahun diadakan sebuah perayaan untuk-Ku dan Kurasa tahun ini perayaan itu akan diulangi. Pada waktu-waktu seperti ini banyak orang yang berbelanja hadiah, banyak pengumuman radio, ikian televisi dan di hampir setiap bagian dunia semua orang membicarakan ulang tahun-Ku yang semakin lama semakin dekat.
Cukup menyenangkan untuk mengetahui bahwa paling tidak sekali dalam setahun beberapa orang memikirkan Aku. Seperti yang kalian tahu, perayaan ulang tahun-Ku dimulai beberapa abad yang lalu. Pada awalnya orang-orang sepertinya mengerti dan berterima kasih untuk apa yang Kulakukan untuk mereka, tapi sekarang ini, sepertinya tidak ada orang yang tahu alasan untuk perayaan ini.
Keluarga dan teman berkumpul bersama dan bersenang-senang, namun mereka tidak tahu apa arti perayaan ini. Aku ingat tahun lalu ada sebuah perjamuan yang besar, untuk-Ku. Meja makannya dipenuhi makanan-makanan lezat, kue-kue, buah-buahan, kacang dan juga cokelat. Hiasan ruangannya indah dan terdapat banyak, banyak sekali hadiah-hadiah yang terbungkus dengan baik. Namun, kau tahu? Aku tidak diundang.
Aku yang seharusnya adalah tamu kehormatan, dan mereka bahkan tidak mengingat untuk mengirimkan undangan. Pesta ini untuk-Ku, namun ketika tiba hari itu, Aku ditinggalkan di luar. Mereka menutup pintu tepat di depan wajah-Ku padahal Aku inigin bersama-sama dengan mereka, berbagi meja mereka.
Jujur saja, hal ini tidak mengejutkan-Ku karena beberapa tahun belakangan ini semua orang menutup pintunya dari-Ku. Karena Aku tidak diundang, Aku memutuskan mendatangi pesta tanpa menimbulkan suara, Aku masuk dan berdiri di pojokan. Mereka semua sedang minum-minum, sebagaian sudah mulai mabuk dan bercanda dan tertawa akan segala hal, mereka sedang bersenang-senang.
Dan ditambah lagi, ada seorang pria gendut berseragam merah dengan janggut putih memasuki ruangan berteriak Ho Ho Ho! la tampak mabuk, ia duduk di sofa dan membiarkan anak-anak menabraknya sambil mereka berseru "Santa Claus, Santa Claus" seakan-akan pesta ini adalah untuk dia.
Saat tengah malam, orang-orang saling berpelukan, Aku mengangkat lengan-Ku, menanti seseorang untuk memeluk-Ku, dan ternyata tidak ada yang memeluk-Ku. Mereka lalu mulai berbagi hadiah, mereka membukanya satu persatu dengan penuh harapan. Saat semua sudah terbuka, Aku mendekat untuk melihat apakah ada satu hadiah untuk-Ku. Apakah yang kau rasakan apabila di hari ulang tahunmu semua orang berbagi hadiah dan kau tidak memperoleh satu pun?
Aku lalu mengerti bahwa Aku tidak diinginkan di pesta ini dan akhirnya aku pergi dengan diam-diam. Setiap tahun semakin buruk, Orang-orang hanya ingat akan hadiah, pesta, makan dan minum, dan tidak ada orang yang mengingat-Ku.
Aku ingin Natal ini kau membiarkan Aku masuk dalam hidupmu. Aku ingin kau mengingat cerita yang terjadi dua ribu tahun yang lalu Aku datang ke dunia ini memberikan nyawa-Ku untukmu, di kayu salib, untuk menebusmu hari ini. Aku hanya ingin kau percaya ini dengan segenap hatimu. Aku ingin membagikan sesuatu denganmu, karena banyak orang yang tidak mengundang-Ku ke pestanya. Aku akan mengadakan perayaan-Ku sendiri. Sebuah perayaan yang besar dan spektakular. Aku sedang mempersiapkan tahap terakhirnya.
Hari ini Aku mengerahkan banyak undangan, dan Aku mengundangmu dan teman-temanmu. Aku ingin tahu apakah kalian mau datang supaya Aku bisa menyiapkan tempat untukmu, karena hanya mereka yang berada dalam daftar tamulah yang bisa masuk ke dalam pesta-Ku. Mereka yang tidak menjawab akan ditinggalkan di luar. Jadi beritahukanlah undangan-Ku pada teman-temanmu, jangan sampai mereka ditinggalkan di luar.
Sampai berjumpa segera, Aku mengasihimuYesus

Kisah Pohon Apel dan Anak Lelaki

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.
"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.
"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.
"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"
"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.
Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.
"Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel.
"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau.
Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."
"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.
"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.
"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu."
"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orangtua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orangtua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orangtua kita.
Banyak hal yang kita lewati terkadang mengubur Kebaikan orang-orang terdekat kita. Ada kalimat dari seorang cendekiawan asal Negeri Kincir Angin: "Semakin sering kita mengenal orang baru, maka semakin sering kita kehilangan orang lama. Begitu pula semakin sering kita melihat keburukan orang, maka akan semakin sering kita mengubur kebaikannya." (TDmail)

Lilin Kecil

Ada sebuah kisah tentang lilin kecil yang dibawa oleh seorang pria menaiki tangga yang cukup tinggi, menuju sebuah menara. Di dalam perjalanan mereka menaiki tangga tersebut, sililin kecil bertanya Kepada pria yang membawanya, "Kita hendak kemana?"
"Kita akan naik lebih tinggi dan akan memberi petunjuk Kepada kapal-kapal besar di tengah lautan yang luas."
"Apa? Mana mungkin aku bisa memberi petunjuk Kepada kapal-kapal besar dengan cahayaku yang sangat kecil? Kapal-kapal besar itu tidak akan bisa melihat cahayaku," jawab lilin kecil lemah.
"Itu bukan urusanmu. Jika nyalamu memang kecil, biarlah. Yang harus engkau lakukan adalah tetap menyala dan urusan selanjutnya adalah tugasku," jawab pria itu.
Tidak lama sampailah mereka di puncak menara dimana terdapat lampu yang sangat besar dgn kaca pemantul yang tersedia di belakangnya. Pria itu menyalakan lampu besar dengan memakai nyala lemah si lilin kecil. Dalam sekejap, tempat itu memantulkan sinar yang terang benderang sehingga kapal-kapal yang ada di tengah laut melihat cahayanya.
Dengan keberadaan dan keterbatasan kita, memang kita tidak akan sanggup melakukan sesuatu yang berarti. Tetapi satu hal yang harus anda ingat, bahwa hidup anda seumpama "lilin kecil"yang ada di tangan Allah yang perkasa. Segala kemampuan dan keahlian anda hanya akan tetap seperti nyala lilin kecil jika anda tidak menaruh hidup anda di dalam tangan Allah untuk Ia pakai menjadi alatNya yang mulia.
Sebaliknya walaupun nyala anda sangat kecil bahkan mungkin redup, tapi jika Anda mempercayakan seluruh keberadaan anda kepada Allah, maka Ia sanggup menjadikan nyala kecil anda menjadi nyala besar yang membawa manfaat besar bagi banyak orang.
Bahkan bukan tidak mungkin Yosua yang adalah abdi Musa itu merasakan sedikit gentar di dalam hatinya ketika Allah memerintahkan kepadanya utk memimpin bangsa Israel merebut tanah Kanaan. Allah menghibur dan menguatkan dia bahwa Allah tidak akan meninggalkannya. Allah menjanjikan kemenangan demi kemenangan bagi dia.
Allah hanya meminta kepadanya, "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu dan jangan menyimpang dari seluruh hukum yang telah diperintahkan Kepadamu" (Yosua1:7)
Jangan memandang ketidakmampuan, keterbatasan, dan kelemahan anda. Jika Allah mempercayakan sesuatu Kepada Anda entah itu suatu pekerjaan besar ataupun suatu pelayanan, percayalah bahwa Anda ada di tangan Allah yang perkasa. Dia akan memakai anda sesuai kehendakNya. Kita hanyalah sebagai alatNya.
Ketika kita mempercayakan seluruh keberadaan kita kepada Allah, maka anda akan melihat bagaimana Ia memakai hidup Anda dan tidak mustahil keterbatasan Anda menjadi berkat yang besar!

Tetaplah Percaya

Seorang wanita yang baru saja menikah, datang pada ibunya dan mengeluh soal tingkah laku suaminya. Setelah pesta pernikahan yang meriah beberapa waktu lalu, baru ia tahu karakter asli sang suami. Keras kepala, suka bermalas-malasan, boros dsb.

Ibu muda itu berharap orang tuanya ikut menyalahkan suaminya. Namun betapa kagetnya ternyata ibunya diam saja. Bahkan sang ibu kemudian  masuk ke dapur, sementara putrinya terus bercerita dan mengikutinya.

Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama, air mendidih. Sang ibu menuangkan air panas itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan:
- Di gelas pertama ia masukkan wortel.
- Di gelas kedua, ia taruh telur.
- Dan di gelas ketiga, ia bubuhkan kopi.

Setelah menunggu beberapa saat, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi.
- Wortel yang keras menjadi lembut,
- Telur yang mudah pecah menjadi keras dan
- Kopi memancarkan aroma harum

Lalu sang ibu menjelaskan maksud dari semuanya itu: "Nak, masalah itu bagaikan air mendidih, Namun, bagaimana sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi Lembek seperti wortel. Mengeras seperti Telur atau harum seperti kopi."

Dalam tiap masalah, sebenarnya tersimpan mutiara iman yang berharga. Sangat mudah untuk beryukur saat keadaan baik-baik saja, tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?

Melalui ilustrasi ini kita belajar ada tiga reaksi orang saat masalah datang.
- Ada yang jadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihani diri.
- Ada yang mengeras, marah dan berontak pada Tuhan.
- Ada juga yang justru makin harum, makin taat dan berserah percaya padaNya

Adakalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya. Apa tujuannya? Agar kita belajar percaya tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Tuhan selesaikan. Namun nantikanlah Tuhan berkarya pada waktuNya.

Rokok yang Mendatangkan Mujizat

Prem adalah seorang perokok berat yang tinggal di India. Suatu kali, dia mencuri sebuah buku tebal dari seorang asing di desanya. Setiba di rumah, dia melihat buku itu terdiri dari kertas tipis yang cocok untuk dijadikan kertas rokok gulungan.

Lalu, dia mulai menyobek lembaran halaman buku itu dan melipat dua. Kemudian menaruh tembakau di tengahnya dan menggulungnya menjadi rokok dan mengisapnya dengan nikmat. Setelah beberapa waktu, temannya datang. Prem menyobek lagi halaman buku itu supaya dibuatkan rokok untuk temannya. Namun temannya berkata, "Saya ingin melihat dulu apa isi kertas buku itu."

Setelah membaca beberapa paragraf, temannya berkata lagi, "Prem, nampaknya buku yang kau sobek dan bakar itu adalah Kitab Suci orang Kristen." Prem yang beragama Hindu itu ketakutan, karena menganggap bahwa Allahnya orang Kristen bisa marah dan menghukumnya. Sejak saat itu, Prem yang tidak bisa membaca meminta temannya membaca untuknya sisa isi Alkitab yang masih belum dibakar menjadi rokok itu.

Dua bulan kemudian, kedua orang Hindu itu mencari misionaris, sang pemilik Alkitab itu. Prem mengakui kesalahannya, "Pak, saya telah mencuri Kitab Suci bapak dua bulan lalu, dan membakar isinya sebagai rokok gulungan. Lalu teman saya menjelaskan bahwa itu adalah Kitab Suci. Setelah dibacakan isinya, kini kami berdua sadar dan benar-benar percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang sejati."

"Puji Tuhan, sejak kehilangan itu saya berdoa kiranya sang maling bisa bertobat dan mengenal Kristus. Dan kini, mujizat itu terjadi," jawab sang misionaris dengan wajah ceria menyambut kedua tamunya.

Jangan salah mengerti, kisah cerita ini bukanlah untuk mempromosikan rokok karena bisa mendatangkan mujizat. Rokok jelas sangat merusak kesehatan dan harus ditinggalkan. Melalui kisah ini kita dapat menyaksikan dan lebih meyakini bahwa Allah yang kita kenal dalam Yesus Kristus adalah Allah yang hidup dan berkarya terus. Alkitab berkata bahwa "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8).

Allah begitu luar biasa dan penuh dengan kreativitas. Dahulu Dia melakukan mujizat: yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang timpang berjalan, yang sakit disembuhkan, yang sedih dihiburkan, yang berdosa diselamatkan, bahkan yang mati dibangkitkan. Kinipun, Dia sanggup melakukannya, bila Dia berkenan. Yakinlah.

Delapan Kado Terindah

Umumnya, seseorang memberikan kado/hadiah kepada teman, kerabat atau orang lainnya pada saat-saat khusus dan tertentu saja. Kado yang diberikan juga biasanya adalah berwujud barang atau sesuatu.

Namun tahukah Anda, sebenarnya ada kado yang bisa Anda berikan melebihi sekadar benda tapi memiliki nilai yang jauh berharga bagi orang-orang yang Anda kasihi? Ada delapan macam kado yang bisa Anda berikan melalui sikap Anda, yaitu:

Kehadiran 
Kehadiran orang yang dikasihi adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto, e-mail atau fax. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

Mendengar 
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekadar ucapan terima kasih pun akan terdengar manis baginya.

Diam
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalaya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.

Kebebasan
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupannya. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah "kamu bebas berbuat semaumu". Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

Keindahan
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah. Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

Tanggapan Positif
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya ada pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir Anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya? Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

Kesediaan Mengalah
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi pertengkaran yang hebat. Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado "kesediaan mengalah". Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Senyuman
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali Anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi.

Kisah Kelima Jari

Kelima jari terdiri dari Jempol, Telunjuk, Jari Tengah, Jari Manis, dan Kelingking. Si Jempol berbangga hati karena meskipun dia pendek dan gemuk, dia adalah Si Ibu Jari. Apapun yang sifatnya bagus dan istimewa, dia yang bekerja. Dengan mengacungkan Jempol, orang-orang tahu bahwa sesuatu adalah istimewa. Iya kan?
Si Telunjuk berbangga hati karena dia menunjukkan kekuasaan. Bukankah orang menyuruh seseorang menggunakan telunjuknya?

Si Jari Tengah berbangga hati karena dia yang paling tinggi. Siapa yang dapat menyangkal?

Si Jari Manis berbangga hati karena dia yang paling manis. Bukankah cincin yang indah pun dilingkarkannya di jari manis?

Bagaimana dengan Si Kelingking? Si Kelingking tidak istimewa, tidak gemuk, tidak tinggi, tidak berkuasa, tidak manis pula. Apanya yang bisa dibanggakan? Sungguhkah Si Kelingking tidak berharga?

Tapi Tuhan memang Maha Adil. Jempol yang istimewa, Telunjuk yang berkuasa, Jari Tengah yang paling tinggi, dan Jari Manis yang manis tidak bisa bekerja sendirian. Cobalah suruh mereka menyuapkan nasi, tidak akan bisa mereka lakukan sendiri. Kerja sama dua jari juga masih sulit. Kerja sama tiga ataupun empat jari mungkin bisa tapi tidak akan maksimal. Nah, kerjasama lima jari bersama dengan kelingking, barulah sempurna. Si Kelingking yang sekilas tidak memiliki kelebihan apa-apa, tampil sebagai penyempurna.

Intinya adalah kerja sama itu indah. Jika kita mampu mengalahkan ego kita masing-masing dan mau menghargai serta bekerjasama dengan orang lain, maka hidup terasa lebih mudah dan dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Orang yang sekilas terlihat lemah bukan berarti tidak memiliki kelebihan, bukan berarti pula harus kita sisihkan. Yang perlu dilakukan adalah meletakkannya pada tempat yang tepat sehingga semuanya menjadi indah luar biasa.

Tiga Orang Wanita Berdoa

Di dalam suatu mimpi seorang wanita melihat ada tiga orang wanita yang sedang berdoa. Saat mereka berlutut, sang TUAN datang mendekati mereka. Dia mendekati wanita yang pertama dengan kelembutan dan anugerah. Dia tersenyum dengan kasih dan berbicara kepadanya dengan nada yang sangat manis.

Setelah itu, Dia mendekati wanita yang kedua. Kepada wanita itu Dia hanya menumpangkan tanganNya ke atas kepala wanita yang sedang menunduk itu dan memberikannya pandangan yang penuh kasih. Namun kemudian Dia melewati wanita yang ketiga dengan tanpa berhenti untuk mengatakan
sesuatu atau hanya memandangnya saja.

Wanita yang bermimpi itu berkata kepada dirinya sendiri, "Pastilah Dia sangat mengasihi wanita yang pertama itu. Wanita yang kedua memperoleh restunya namun dia tidak mengalami sikapNya yang menunjukkan kasih, seperti yang dilakukanNya kepada wanita yang pertama. Sedangkan wanita yang ketiga, pastilah merasa sangat sedih karena Dia sama sekali tidak berkata apa-apa kepadanya,
bahkan memandangnya pun tidak."

Tapi datanglah Tuannya dan berdiri disampingnya dan berkata, "Hai, wanita! Engkau salah dalam menilai sikap-Ku!

Wanita yang pertama sepenuhnya memerlukan kelembutan dan perhatian-Ku supaya dia bisa tetap melangkah di jalan-Ku yang sempit. Dia memerlukan kasih, perhatian dan pertolongan-Ku setiap saat, karena tanpa itu semua dia akan jatuh.

Wanita yang kedua memiliki iman yang lebih kuat dan kasih yang lebih dalam daripada yang dimiliki oleh wanita pertama, dan Aku bisa mengandalkannya untuk tetap mempercayai Aku tanpa memedulikan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan orang-orang terhadapnya.

Wanita yang ketiga, yang tampaknya tidak Aku perhatikan, bahkan mungkin tampak ditelantarkan, memiliki iman dan kasih yang sangat murni. Dia sangat mengenal Aku, dan sepenuhnya mempercayai Aku, sehingga dia tidak lagi bergantung pada suara-Ku, tatapan-Ku yang penuh kasih, atau tanda-tanda lainnya untuk bisa mendapatkan persetujuan atau restu-Ku.

Dia tidak akan merasa cemas atau menjadi patah semangat dengan situasi dan keadaan apapun yang Aku rancangkan untuk dia hadapi. Dia mengetahui bahwa Aku sedang mempersiapkan dirinya untuk kekekalan, dan menyadari bahwa di kemudian hari, dia akan memahami apa yang Aku lakukan.

"Kasih-Ku hening karena kata-kata tidak bisa mengekspresikan kasih-Ku dan hati manusia sukar untuk bisa memahaminya. Dan juga, keheningan-Ku itu adalah demi engkau, supaya engkau belajar untuk mengasihi dan mempercayai-Ku dengan kemurnian, seperti yang diajarkan Roh, dan menanggapinya secara spontan tanpa dipengaruhi oleh hal-hal yang tampak dari luar."

KENALILAH ALLAH SECARA PRIBADI DAN BUKAN DENGAN APA YANG TAMPAK DARI LUAR

Membagikan Kabar Baik di Facebook

Apakah Anda tergolong orang yang aktif berbagi aktifitas kehidupan atau curhat kepada teman-teman Anda melalui Facebook? Jika Anda peduli pada teman-teman Anda, khususnya yang belum menerima keselamatan dalam Kristus, manfaatkanlah akun Facebook Anda sebaik-baiknya untuk kemuliaan Tuhan dengan membagikan Injil kepada mereka.
Beberapa ide di bawah ini dirangkum dari Charisma Online yang telah mengumpulkan cara-cara terbaik dari para pembacanya mengenai penginjilan dengan Facebook. Cara-cara ini dapat Anda terapkan dan kembangkan sesuai kebutuhan.

• Membagikan Kesaksian
Facebook memungkinkan Anda untuk membuat tulisan cukup panjang melalui menu "Note". Buatlah tulisan singkat mengenai kehidupan rohani Anda yang telah diperbarui Kristus. Ceritakanlah kepada teman-teman Anda bahwa memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan adalah suatu hal yang sangat berarti bagi Anda. Tidak perlu terlalu rumit, buatlah kesaksian yang sederhana.

• Biarkan Firman Bicara 
Menuliskan ayat-ayat firman Tuhan yang menguatkan adalah sebuah ide yang bagus. Tonya Sullivan bercerita sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan temannya yang kini menjauh dari Tuhan. Suatu hari Sullivan menemukan sebuah pesan dalam inbox yang dikirim teman itu yang mengatakan bahwa ayat yang telah dipostingnya telah menegur dan mengingatkannya untuk kembali kepada Tuhan. Ini suatu hal yang luar biasa!

• Keluar dari Dinding Teman Anda
Jangan hanya terpaku pada dinding (wall) Facebook Anda. Pergilah keluar darinya, temui teman-teman lama Anda waktu di sekolah dulu dan jalin kembali persahabatan yang terputus dengan mereka. Melalui reuni ini, Anda bisa mulai membangun hubungan lebih bermanfaat dengan membagikan kasih Kristus kepada mereka.

• Penginjilan Pribadi 
Kembangkanlah suatu hubungan dengan seseorang yang baru dikenal atau teman yang berada kota lain atau bahkan benua lain. Tunjukkan kepada mereka bahwa Anda peduli kepada mereka dengan menceritakan kasih Allah dan kemudian Anda dapat memimpin mereka kepada Kristus melalui menu chat.

• Perhatikan Status Facebook Anda
Cobalah setiap hari untuk menunjukkan rasa syukur Anda kepada Tuhan melalui status update Anda. Posting firman Tuhan untuk memberi harapan, kedamaian dan dorongan kepada teman-teman Anda di Facebook. Bagikanlah berkat-berkat rohani dari renungan saat teduh Anda hari ini. Pastikanlah status yang Anda perbarui adalah sesuatu yang positif. Tuliskanlah dengan hal-hal atau orang-orang yang membuat Anda bersyukur atau yang telah memberkati Anda baru-baru ini. Jika Anda tidak memiliki sesuatu yang baik untuk dituliskan, jangan tuliskan itu. Hal-hal positif, seperti halnya yang negatif, adalah sesuatu yang dapat menular.

• Berdoa
Berdoalah untuk orang-orang di Facebook Anda. Berdoalah bagi siapa pun yang memposting suatu kebutuhan, masalah atau penyakit yang sedang diderita. Seorang Facebooker mengatakan, "Aku berdoa bersama mereka saat itu juga melalui Facebook. Aku mengetik setiap doa yang keluar seolah-olah aku sedang menumpangkan tangan pada mereka."

• Menjaga Hati
Terakhir, tetaplah rendah hati dan bersikap jujur. Jangan mencoba untuk menjadi orang yang bukan diri Anda sebenarnya. Selalu tunjukkan kehidupan yang serupa Kristus dalam hidup Anda dalam setiap aktifitas online ataupun offline. Ingatlah bahwa orang tidak peduli seberapa banyak Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli. Tunjukkan kepedulian Anda, mulailah gunakan Facebook untuk meyakinkan orang bahwa mereka berharga di mata Allah.

Setiap Langkah Adalah Anugerah

Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di bandara, ia bertemu dengan seorang prajurit bernama Harry yang memang dikirim untuk menjemputnya. Pertemuan itu memberi kesan mendalam bagi sang profesor.
Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan bagasi. Ketika berjalan keluar, Harry terlihat sering menghilang karena melakukan banyak hal seperti membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan di luar. Harry juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Dan setiap kali selesai, ia kembali ke sisi profesor itu lagi dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
   "Dari mana anda mempelajari hal-hal seperti itu?" tanya profesor penasaran.

"Oh itu, Selama perang saya kira." kata Harry. Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya selama perang di Vietnam. Tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan bagaimana satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah," katanya. "Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru. Dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."

Bagaimana Anda menjalani hidup Anda? Setiap kali bangun pagi, tergesa-gesa berangkat kerja, terjebak macet di jalan, bekerja keras hingga pulang malam hari untuk mendapatkan lebih banyak uang atau karir lebih baik. Manusia berlomba mengejar kenikmatan materi dan terbelenggu di dalamnya. Hidup menjadi serangkaian kesibukan, beban berat, stres, apakah seperti ini tujuan dan arti hidup manusia?

"Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia." (Pkh. 1:2). Penulis Pengkhotbah memiliki kekayaan dan hikmat yang luar biasa, dia memiliki ratusan wanita, istana, dan segala sesuatu yang terbaik pada zamannya. Tetapi semua yang dimiliki tidak dapat memuaskan kehampaan hati.

Bagaimana kita menjalani hidup kita hari demi hari? Adakah ucapan syukur di dalam setiap langkah kita, tanpa peduli apa yang kita lalui itu hal yang buruk atau hal yang baik. Atau kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri? Ingat, kita tidak pernah tahu pijakan langkah kita berikutnya. Mungkin saja itu adalah ranjau yang akan menghancurkan diri kita.

Setiap langkah yang kita ambil, setiap pijakan yang kita jejak adalah anugerah Tuhan yang membimbing kita melalui kehidupan, setiap detik, setiap waktu. Hargailah kehidupanmu dan jalanilah dengan baik bersama Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar